Tak Pernah Pupus
telah kuanyam bilah-bilah hari
dari daun-daun waktu yang kering
menjadikannya lembar harap
membungkus sisa kehidupan
yang semakin runcing menyungsung waktu
dan dalam sadarku
ada cicir ranting tersisa menggores sejarah
yang telah lama di luar fikirku
esok bukan lagi menjadi pohon indah
meski akar-akar harap
mencari nikmat membekal kekuatan
bagi sebuah kehidupan yang direncanakan
siapalah yang dapat meneka takdir
sedang kudrat itu ada pada-Nya
dan kita hanyalah pengusaha
ikhtiar yang tak pernah pupus
dengan kekuatan iman
bersenjatakan doa
penghijau di akhir hayat
Abdullah Tahir
11 Julai 2012
Wednesday, 11 July 2012
Sunday, 1 July 2012
Ke Puncak Wawasan
Menghitung lembar-lembar hari
Mengiringi jalanan matahari dan waktu
Dengan warna-warna kemajuan
Di atas sebuah tanah warisan yang kita ada
Agar berdiri sama tinggi duduk sama rendah
Dalam memertabatkan nama bangsa dan Negara
Demi kedaulatan raja dan rakyat
Yang cintanya tumpah ke bumi Brunei Darussalam.
Hulurkan tangan dan jari jemarimu
Kita tintakan sejarah anak bangsa Brunei
Menuju kesebuah lakaran wawasan
Dengan butir-butir emas dari wangian
Sukan dan olahraga dipersada dunia
Bahawa setiap denyut dan detak jantung
Bahawa setiap desah dan hembusan nafas
Bahkan setiap titis keringat membasah bumi
Adalah tinta yang tak akan pudar dan suram
Terhampar indah di kanvas kehidupan
Sebagai warisan dan restaan anak bangsa Brunei
Dan kitalah barisan hadapan yang menuju ke garis penamat
Bagi sebuah cita-cita tersemat di dada.
Langkah-langkah pantas dan tangkas
Cerdas
Berwibawa
Sehat
Berdisiplin
Bersumberkan iman dan taqwa
Adalah janji bagi sebuah jati diri
Untuk sampai ke puncak wawasan
Dan kitalah barisan hadapan
Menuju ke garis penamatnya.
Abdullah Tahir
28 Jun 2012
Tuesday, 5 June 2012
Pemegang Janji
sedekad berlalu
ketika senja memerah
kita di sini bicara, erti sebuah kehidupan
pada sebuah gagasan
mencari solusi
tentang kebahagian
jarak waktu telah mengajar kita
makna sebenar sebuah perjuangan
melalui lidah dan fikir
hanya anggota yang bisa membuktikan
bahawa kita masih di tapak yang sama
kita hanya terbentur oleh angan dan asakan
pada janji-janji yang tak pernah ada
bagaikan adunan indah
yang rasanya tiada beza
sekarang bukanlah waktu yang aman
meski kelilingmu terhias senyum dan tawa
bisakah kau mengerti
pada tubuhmu telah tumbuh kekelabuan
yang menyamarkan erti sebuah kejujuran
dalam membangun bangsa
yang salutnya terbena dari kertas yang rapoh
kita semestinya kembali
meladani firman-Nya
tanpa mengharap saksi dari yang kelabu
tekadkan saja pada hati
janjimu hanya kepada-Nya
kerana Dia pemegang janji
tak pernah sama
Abdullah Tahir
6 Jun 2012
Saturday, 19 May 2012
Tanpa Bersama-Mu
terasa kosong dan sepi
kehidupan hambar dan tawar
dibelenggu rasa resah tak berhujung
umpama pelayaran di tengah lautan
kematian angin dan terumbang ambing
dan selamanya Kau adalah segalanya
dengan kudrat dan iradah-Mu
siapalah aku di sisi-Mu
yang membetulkan diri adalah hak-Mu
dan yang memungkarkan diri
adalah aku yang dhaif dan lalai
sering mengkufuri nikmat-Mu.
hari-hari tanpa bersama-Mu
bak lelayang tanpa tali
terjauh dari rahmat dan berkah-Mu
berikan ruang dan waktu
bagiku membetulkan diri
membasahkan lidah dan bibirku
dengan memuji keagungan-Mu
mencintai-Musetiap saat
hingga ke hujung hayat
Abdullah Tahir
20 Mei 2012
Wednesday, 16 May 2012
Kitalah Pewarnanya
menadah tangan mengiring doa
dalam kesepakatan yang tak terduga
kita berjaya menempuhnya
melalui idea dan kekuatan raga
bersatu menjelmakan cita
demi sebuah kampung yang kita warganya
meski dalam suka dan duka
kita akan terus berdiri
menanai harga diri sejati
dan kitalah pewarnanya
mencorak kanvas kampung
akan ke mana di bawa
dan setiap kita ada wajah-wajah ceria
yang setiap hati dan cita
terus mencari sesuatu yang berguna
biarlah pelangi akan terus merentang
pada setiap kita yang cintanya
tumpah dan setia pada kampung bernama - Danau.
Abdullah Tahir
16 Mei 2012
Monday, 14 May 2012
Seiris Simpati
tak 'kan terbina sebuah kebahagiaan
di atas hamparan pasir
yang berderai dan gersang
selagi ombak ganas terus mencumbu pantai
selagi hangatnya mentari membakar pasir
bersama gisilan deru angin
membias setiap butir pasir kering
bagaikan tentera patuh
membidik peluru buta kessetiap penjuru
bersalutkan nafsu amarah yang derita
andaipun bening malam menghidu niat
akan terlahirkah keindahan pada sebuah tangis
yang membendung harap
sedang suamnya air mata terus simbah
menyatu ruang sabar yang sarat dengan doa
pintanya lahirlah cinta walau seiris simpati
menghapus derita para warga
yang wajahnya setia
mengusung nafas
ke hujung hayat
Abdullah Tahir


