Wednesday, 30 June 2010












Bangsaku Kelabu

Kelabukah kini bangsaku
gamaknya berpijak dibirai waktu
bagaikan mekar menunggu layu
bagaikan irama tanpa lagu
mimpi indahpun tidak menentu
dan yang sekarungpun tinggal sesaku
budayawan dan pencinta bangsa terkidu
menyorok diri membawa malu
mulut terkunci terus membisu
siapakah menadah tangan pintanya berlagu
umpama menunggu di kolam madu

Abdullah Tahir
1 Julai 2010

Thursday, 24 June 2010










Menanti Hari

disanakah aku
saat kelkatu menghurung pelita
saat kekunang membawa cahaya
bernostalgia
bersama gelap malam
menganyam mimpi indah
dicelah-celah pondok bisu
berdingin di kali
sepi bersama embun
melihat riak anak-anak ikan
tenang bermain
oh....zaman itu
tak kan kembali
akhirnya aku lelah sendiri
menanti hari


Abdullah Tahir
24 Jun 2010

Monday, 21 June 2010











 Jong Batu

Jong Batu tercipta
oleh masinnya doa seorang ibu
yang hatinya tersayat sembilu
angkara anaknya yang malu mengaku
sedang tulang daging dan darahnya
adalah lahir dari darah susu
seorang ibu yang amat rindu
yang lahirnya digendong dipangku
bersengkang mata sambil berlagu
agar si anak tidak terganggu
nyaman beradu

Jong Batu tercipta
oleh masinnya doa seorang ibu
yang hatinya tersayat sembilu
merayu kepada Allah yang satu
agar ditunjukkan berkah seorang ibu
sebagai penentu
kepada seorang anak yang angkuh
derhaka
tidak mengaku seorang ibu
yang kasihnya
semakin layu


Abdullah Tahir
20 Jun 2010

Thursday, 10 June 2010

Bunga Bunga Cinta - Misha Omar

Wednesday, 9 June 2010
















Waktu Tumpah Di Restoran

kutumpahkan waktu di sini
bersama secangkir tea c
dan sekeping roti
disebuah restoran
yang pelayannya bukan anak watan
melayan tanpa bosan
santun dan sopan

kutumpahkan waktu di sini
bersama seorang teman
bersembang sepagian
disebuah restoran
yang pelayannya bukan anak watan
menghitung pendapatan
untuk keluarga di kampung halaman

kutumpahkan waktu di sini
bersama senaskhah akhbar harian
beritanya seputar tentang keolahan
disebuah restoran
yang pelayannya bukan anak watan
bertudung manis menawan
'.....ning minta lagi secawan'
aku bertahan kewalehan
kehausan  (?)

kutumpahkan waktu di sini
bersama perginya waktu-waktu azan
yang jemaahnya sedia menghadap tuhan
disebuah restoran
yang pelayannya bukan anak watan
sibuk melayan pelanggan
berdatangan
dari pagi kemalaman

kutumpahkan waktu di sini
bersama secangkir tea c
bersama seorang teman
bersama senaskhah akhbar harian
bersama perginya waktu-waktu azan
disebuah restoran
yang pengusahanya bukan anak watan
setiap hari minggu dan bulan
menghitung pendapatan
walau diperantauan
disebuah bumi tuhan


Abdullah Tahir
9 Jun 2010

Tuesday, 8 June 2010














Kurnia Yang Tak Ternilai

ini adalah tanah warisan
yang telah kau kenal
tentang harum dan busuknya
tentang cerah dan gelapnya
tentang senang dan peritnya
tentang hidup dan matinya
kau tidak harus malu
'kan suatu waktu kita telah sama-sama
ketawa riang hingga air mata jatuh berjurai
bahkan berduka-sakan sehingga dada sebu
dan sesak nafas
lalu
jangan kau khianati tanah ini
dengan busuknya hati
dengan hanyirnya mulut
dengan serakahnya pena
dan kau jaja segenap lorong dan pasar
dan kau hebah segenap negeri dan negara
dan kau ITkan segenap media dan website
lalu kau jadi apa dengannya
sehingga maruah kau telanjangi
bagai ludahmu ke langit
bagai tepuk airmu di dulang
tanah ini adalah ibumu
tanah ini adalah ayahmu
tanah ini adalah saudara-saudaramu
kau apakan lagi
kalau tidak kau harus jagai
kalau tidak kau harus hormati
kalau tidak kau harus sayangi
kalau tidak kau harus harmonikan
atau
kalau tidak kau harus sejahterakan
dan tanah ini adalah kurnia yang tak ternilaikan


Abdullah Tahir
8 Jun 2010

Monday, 7 June 2010

 Masih Ada Toleransi

Malam ini
kan kepeluk bintang-bintang
dalam mimpiku yang panjang
biar saja bulan sendirian
dalam cahayanya yang samar
dan aku akan terasa hangatnya malam
yang terus berlabuh di hujung subuh
mengiring suara azan yang syahdu

siapakah yang merasa dinginnya malam
tanpa bintang menghias di birai langit
sedang bulan hilang serinya
saat embun merayap di dedaun segar
aku masih juga mengulit bintang
tanpa merasa dinginnya subuh

bulan 
relakan aku bersama bintang
dan kau setialah bersama punggukmu
jangan biarkan nyanyiannya
mengganggu mimpiku
dan esok 
akan ku ceritakan
bahawa di maya ini
masih ada toleransinya


Abdullah Tahir
7 Jun 2010 

 
Get Free 3 Column Templates Here