Pemegang Janji
sedekad berlalu
ketika senja memerah
kita di sini bicara, erti sebuah kehidupan
pada sebuah gagasan
mencari solusi
tentang kebahagian
jarak waktu telah mengajar kita
makna sebenar sebuah perjuangan
melalui lidah dan fikir
hanya anggota yang bisa membuktikan
bahawa kita masih di tapak yang sama
kita hanya terbentur oleh angan dan asakan
pada janji-janji yang tak pernah ada
bagaikan adunan indah
yang rasanya tiada beza
sekarang bukanlah waktu yang aman
meski kelilingmu terhias senyum dan tawa
bisakah kau mengerti
pada tubuhmu telah tumbuh kekelabuan
yang menyamarkan erti sebuah kejujuran
dalam membangun bangsa
yang salutnya terbena dari kertas yang rapoh
kita semestinya kembali
meladani firman-Nya
tanpa mengharap saksi dari yang kelabu
tekadkan saja pada hati
janjimu hanya kepada-Nya
kerana Dia pemegang janji
tak pernah sama
Abdullah Tahir
6 Jun 2012
Tuesday, 5 June 2012
Saturday, 19 May 2012
Tanpa Bersama-Mu
terasa kosong dan sepi
kehidupan hambar dan tawar
dibelenggu rasa resah tak berhujung
umpama pelayaran di tengah lautan
kematian angin dan terumbang ambing
dan selamanya Kau adalah segalanya
dengan kudrat dan iradah-Mu
siapalah aku di sisi-Mu
yang membetulkan diri adalah hak-Mu
dan yang memungkarkan diri
adalah aku yang dhaif dan lalai
sering mengkufuri nikmat-Mu.
hari-hari tanpa bersama-Mu
bak lelayang tanpa tali
terjauh dari rahmat dan berkah-Mu
berikan ruang dan waktu
bagiku membetulkan diri
membasahkan lidah dan bibirku
dengan memuji keagungan-Mu
mencintai-Musetiap saat
hingga ke hujung hayat
Abdullah Tahir
20 Mei 2012
Wednesday, 16 May 2012
Kitalah Pewarnanya
menadah tangan mengiring doa
dalam kesepakatan yang tak terduga
kita berjaya menempuhnya
melalui idea dan kekuatan raga
bersatu menjelmakan cita
demi sebuah kampung yang kita warganya
meski dalam suka dan duka
kita akan terus berdiri
menanai harga diri sejati
dan kitalah pewarnanya
mencorak kanvas kampung
akan ke mana di bawa
dan setiap kita ada wajah-wajah ceria
yang setiap hati dan cita
terus mencari sesuatu yang berguna
biarlah pelangi akan terus merentang
pada setiap kita yang cintanya
tumpah dan setia pada kampung bernama - Danau.
Abdullah Tahir
16 Mei 2012
Monday, 14 May 2012
Seiris Simpati
tak 'kan terbina sebuah kebahagiaan
di atas hamparan pasir
yang berderai dan gersang
selagi ombak ganas terus mencumbu pantai
selagi hangatnya mentari membakar pasir
bersama gisilan deru angin
membias setiap butir pasir kering
bagaikan tentera patuh
membidik peluru buta kessetiap penjuru
bersalutkan nafsu amarah yang derita
andaipun bening malam menghidu niat
akan terlahirkah keindahan pada sebuah tangis
yang membendung harap
sedang suamnya air mata terus simbah
menyatu ruang sabar yang sarat dengan doa
pintanya lahirlah cinta walau seiris simpati
menghapus derita para warga
yang wajahnya setia
mengusung nafas
ke hujung hayat
Abdullah Tahir
Cermin
cermin
kejujuranmu
kesetiaanmu
keamanahanmu
bahkan kebisuanmu
adalah pendamping
yang disenangi
kau adalah
penyimpan rahsia
mengatasi manusia
didadamu
ada cerita
yang hanya kau dan aku tahu
selain-Nya.
Abdullah Tahir


